Monthly Archives:April 2015

Hiburan Menengah Kebawah Dikawasan High Class

                Kebiasaan nangkring alias nongkrong menjadi hiburan bagi pribadi orang  yang sedang penat dengan aktifitas rutinnya. Menikmati sisi kota dengan berlesehan, bersenda gurau bersama kawan dan makan-minum seadanya menjadi fashion bagi mereka. Lain hal dengan mereka yang elit, mereka memilih bersosial disalah satu kawasan yang mewah dan berkelas.

                Meskipun dikepung kawasan High Class, hal ini tidak jadi persoalan “gengsi” bagi meraka untuk tetap nongkrong. Sekedar untuk duduk atau mengobrol tempat ini didaulatkan oleh mereka sebagai tempat melepas penat melepas penat.

                PT Citra Nusa Insan Cemerlang (CNI) di Puri Kembangan menjadi pusat wisata yang murah bagi mereka yang menengah kebawah, meski di “gitari” oleh Puri Mall, Harley Davidson, Hypermart, Carefoure, Lippo Mall Puri, Matahari Store, IPEKA Puri, Apartemen The Windows Tower, Walikota Jakarta Barat, Apartemen Puri, dan Rumah sakit Puri Indah.

 

  klo
(Foto : Darlena)w

 

Bagi yang bertempat tinggal di Puri Kembangan sudah hapal betul dengan kawasan tersebut. CNI merupakan PT Citra Nusa Insan Cemerlang bisnis  multi level marketing (MLM) di Puri Kembangan, Jakarta barat. Sejak 2003 gedung pencakar langit ini menghiasi cantik tempat hiburan yang multi fungsi bagi kalangan menengah ke bawah. CNI mempunya taman yang hijau dan lahan untuk sekedar duduk yang terbentang terbatasi kali di tengahnya. Biasanya orang – orang menghabiskan lebih dari satu jam hanya duduk dan mengobrol.

kl
(Foto : Darlena)cni

                Di saat pagi, orang – orang dapat berolahraga dengan keluarga atau sekedar bermain di taman sekitar CNI. Jika malam telah tiba, suasana sekitar CNI ramai dipadati pengunjung, pedagang, pengamen, pemulung, kawula muda dan kawula tua pun tidak pernah absen. Live music pun menambah warna positif bagi hiburan malam di CNI.

               “Kalo gue suka nongkrong di CNI sepulang kuliah, gue biasa nongkrong lebih dari delapan sampai dua belas jam sehari, disini asyik. Gue udah kenal semua pedagang, pengamen dan kepala keamanan disini,” Ujar Paulusta Simbiring mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikas Universitas Esa unggul saat diwawancarai di CNI (08/04).

                Menurut Paul (nama panggilannya), pengaruh kawasan high class tidak pengaruh terhadap pengunjung. Karena mereka yang elit tidak pernah mempedulikan  kami yang nongkrong di CNI. Terpenting bagi kami happy dan tidak ada orang yang mengganggu. Serupa dengan pendapat Fernand Turnip warga Puri Kembangan, sekedar duduk dipinggir kali CNI, ngopi, ngrokok , dan ngobrol bersama teman-teman membuat penat berkurang. “Suguhan pemandangan yang terkesan luas membuat otak  saya fresh disini,” ujarnya sambil menghisap udara CNI malam itu.

Dimanapun tempat nongkrong, high class atau middle class yang utama kenyamanan dan isi kantong yang anda punya. Usahakan tidak memaksakan diri untuk terlihat eksis dengan gaya nongkrong ala kaum elit.

 

Neng Darlena Nurhasanah.

WARISAN CERITA KUNO GERHANA BULAN

Ditengah era globalisasi dan kecanggihan teknologi, rupanya masih ada saja daerah yang mempercayai mitos. Misalnya pada gejala alam gerhana bulan. Masi banyak daerah yang berpandangan bahwa peristiwa langka yang satu ini mengandung unsur mistis yang diturunkan nenek moyang mereka, walau pada akirnya beberapa mitos menjadi legenda dalam budaya daerah.

MITOS TERATAS TENTANG GERHANA BULAN

  1. Kala (raksasa) menelan bulan

gerhana-bulan

Sumber : google.com

Bali. Orang Bali sibuk membuyikan kentongan atau benda apa saja yang bisa di pukul dan menghasiklan suara nyaring saat gerhana bulan. Tujuannya untuk mengusir Kala Rahu yang akan menelan bulan. Mitos ini tertuang dongeng  Purana yang sangat populer di Indonesia.

Dahulu  seorang asura bernama Rahu menyamar menjadi seorang dewa. Ia pun turut serta bersama para dewa yang menunggu gilirannya untuk mendapatkan amerta (keabadian). Namun, tipuan Rahu diketahui oleh Dewa Surya dan Candra. Mereka pun segera memberitahu Dewa Wisnu. Tepat saat tirta amerta mengalir di tenggorokan Rahu, Dewa Wisnu memenggal kepala Rahu dengan senjata Cakra Sudarsana. Meskipun kepala dan badannya telah terpisah, namun Rahu mampu hidup sebab tirta amerta telah mencapai tenggorokannya. Akhirnya kepala tersebut marah dan bersumpah akan menelan Surya (matahari) dan Candra (bulan). Hal tersebut mengakibatkan terjadinya gerhana. Karena kepala Rahu tidak tersambung ke perutnya, maka Surya dan Candra dapat membebaskan diri setelah mereka tertelan.

Jawa.  Dahulu jika terjadi gerhana, penduduk jawa berbondong-bondong menyembunyikan balita mereka di dalam tempayan, kolong tempat tidur dan tempat aman lain demi menghindarkan bocah-bocah itu dari shang Batara Kala, raksasa dalam cerita pewayangan yang gemar memakan balita. Sementara itu kaum laki-laki beranjak memukul kentongan beramai ramai untuk mengusir sang kala sesegera mungkin.

 

China. Kebudayaan kuno China meyakini bahwa gerhana bulan terjadi karena seekor naga raksasa murka dan memangsa bulan. Fenomena ini mereka sebut ” CHIH ” yang artinya memangsa. Untuk mengusir naga, mereka membuat keributan dengan cara membunyikan petasan agar sang naga pergi. Hingga kini, meski sudah tidak diyakini lagi, guna melestarikan kebudayaan, membunyikan petasan saat gerhana kadangkala masih diadakan.

 

  1. Racun mematikan

Jepang. Orang Jepang percaya bahwa saat fenomena gerhana bulan muncul, terdapat racun yang disebarkan ke bumi. Untuk menghindari air di bumi terkontaminasi racun, mereka menutupi sumur-sumur mereka.

 

  1. Meninggalnya seorang tokoh

Prancis. Diceritakan bahwa Raja Louis akhirnya meninggal dalam histeria dan ketakutan saat malam dunia begitu gelap ketika terjadi gerhana bulan pada tahun 840. Menurutnya setan sebentar lagi turun ke dunia untuk mencabut nyawa.

Putra Rasulullah. Pernah terjadi gerhana pada masa Rasulullah SAW. Berdekatan dengan saat gerhana tersebut, putra Rasulullah yang bernama Ibrahim meninggal dunia.Sebagian orang kasak-kusuk, bahwa terjadinya gerhana ini adalah pertanda buruk meninggalnya putra Rasulullah. Maka setelah shalat gerhana, Rasulullah berkhutbah. Di antara isi khutbahnya dia bersabda: “Sesungguhnya matahari dan bulan merupakan dua tanda kekuasaan Allah Azza wa Jalla. Terjadinya gerhana matahari atau bulan itu bukanlah karena kematian seseorang atau kehidupannya. Oleh karena itu, jika kau menyaksikan gerhana bergegaslah untuk mengerjakan shalat,” (HR Muslim). Demikianlah Rasulullah menghancurkan mitos yang berkembang, sebelum mitos itu membesar.

  1. Tanda kemurkaan Tuhan

Bangsa Yunani kuno percaya jika terjadi gerhana bulan, hal tersebut merupakan tanda akan adanya bencana dan kerusakan di muka bumi. Bencana atau kerusakan tersebut dipercayai merupakan awal dari kemarahan Tuhan.

  1. Jaguar akan memakan bulan

Bangsa Inca kuno percaya bahwa ketika bulan purnama merah atau bulan darah menampakkan diri di langit, hal itu merupakan pertanda bahwa sedang akan terjadi hal buruk, yaitu jaguar akan menyantap bulan.Menurut tulisan bangsa Spanyol terdahulu, bangsa Inca takut setelah jaguar memakan bulan, hewan ini akan turun ke bumi dan memangsa semua manusia. Oleh karenanya, ketika muncul Gerhana Bulan , mereka akan membuat suara yang sangat gaduh dengan menabuh segala hal sampai berteriak-teriak.

  1. Bulan sedang sakit dan berdarah

Menurut kepercayaan suku asli Amerika dari utara California bernama Hupa, gerhana bulan darah merupakan pertanda bahwa bulan sedang sakit karena diserang oleh hewan peliharaannya sendiri.

Meskipun mitos-mitos diatas tidak masuk akal. Namun mitos tersebut merupakan kekayaan yang diwariskan dari nenek moyang.Mitos hanya keyakinan-keyakinan yang berdasarkan cerita atau legenda nenek moyang yang dihubungkan dengan fenomena alam, asal mula tempat,dll.

 

 

Neng Darlena Nurhasanah

 

Menuntun Sebuah Perjalanan Agustinus Wibowo

 

CBqyZu4UsAEmvak

(Foto diambil dari @avgustin88)

 

“Justru kita perlu bermimpi, karena mimpi itu yang menetukan perjalanan. Mimpi itu yang mengubah manusia.”

“Mimpi, kalau Cuma mimpi tok, yaa tidak berguna,” balas mama

“Tapi tanpa mimpi, tanpa cita-cita, orang tidak akan kemana- mana. Sejak kecil aku sudah ingin keliling dunia. Dengan membawa mimpi itu, aku berjalan, aku sungguh berjalan. Dan sekarang aku benar sudah lihat dunia.”

“Hidupmu juga seperti mimpi.”

Justru karena masih ada mimpi, kita jadi punya alasan untuk terus hidup, terus maju, terus berjalan, terus mengajar. Tanpa mimpi sama sekali, apa pula arti hidup ini?”

(Titik Nol,halaman 36)

Bagi sebagian orang backpacking hanya sekedar gaya hidup dan hobi.  Menapaki berbagai perjalan ke berbagai negara. Namun bagi Agustinus Wibowo, perjalanan merupakan nafas dan pemuas batin.

 

Menyibak misteri dari negara perang tanpa henti, kemiskinan, maut, bom bunuh diri, kehancuran, perempuan tanpa wajah dan ratapan pilu. Agustinus bukan berwisata ke Negara Asia Tengah yang sangat dihindari banyak orang. Ia bertandang ke Tajikistan, Kirgiztan, Kazakhastan,Uzbekistan, Turkmenistan dan Hindustan.  Dikemas dalam tulisan yang diterbitkan oleh PT Kompas Gramedia.

“Disini semua mahal, yang murah Cuma satu : nyawa manusia.”

Agustinus Wibowo menceburkan diri menjadi musafir sebuah perjalanan akbar menggitari dunia. Jurnalis reporter, fotografer, penulis buku Selimut Debu, Garis Batas dan Titik Nol membuka cakrawala pembaca untuk ikutserta didalam ceritanya. Bahasa yang dipergunakan sastra bercampur aduk dengan Bahasa yang ia temukan di Negara yang disinggahi menjadi pemikat bagi pembaca.

CBqymLyUAAADzN9CBqyot5UMAA7fNoCBqyqAlUAAIHaMG

(Foto : Darlena)

                Institut Teknologi Sepuluh November Surabaya (ITS) jurusan Informatika menjadi tempatnya menuntut ilmu selama satu semester. Kemudian ia memutuskan pindah ke Fakultas Komputer Universitas Tshinghua, Beijingdi tahun 2000.

Setelah lulus kuliah  2005, Agustinus memutuskan berpetualang  dari Beijing menuju Afrika Selatan. Namun karena satu hal dan lainnya ia tertahan di Afghanistan. Tekadnya yang berani dan full injection spirit, ia menjalani hidupnya sangat lepas dan bebas. Ia merogok kocek dari sakunya sendiri untuk biaya perjalanan ini. Untuk menyambung hidup ia sempat menjadi jurnlais di Afghanistan.

Talenta menggunakan bahasa asing membuat Agustinus tertantang ‘bergelandangan’ di negri orang. Pengalamannya yang pernah di tangkap polisi, tidak mandi selama dua bulan, kehilangan dompet dan trauma lain yang memenuhi memori. Ia berhasil sampai pada titik terakhir perjalanan. Berpertualang selama sembilan tahun dengan berbagai pengalaman.

Sastra yang kental dalam karya penulisannya membuat banyak orang kagum. Seperti dalam bukunya yang berjudul “Titik Nol” sebagai berikut :

“Agustinus telah menarik cakrawala yang jauh pada penulisan perjalanan (travel writing) di Indonesia. Penulisan yang dalam, pengalaman yang luar biasa, membuat tulisan ini seperti buku kehidupan. Titik Nol merupakan cara bertutur yang benar-benar baru dalam travel writing di negri ini.”

-Qaris Tajuhidin, editor Tempo dan Penulis Novel.

Sepenggal tulisan Agustinus Wibowo, “Perjalanan adalah belajar melihat dunia luar, juga belajar untuk melihat kedalam diri. Pulang memang adalah jalan yang harus dijalani semua pejalan. Dari Titik Nol kita berangkat, kepada Titik Nol kita kembali. Tiada kisah cinta yang tak berubah noktah, tiada pesta yang tanpa bubar, tiada pertemuan yang tanpa perpisahan, tiada perjalanan yang tanpa pulang,” Titik Nol halaman 531.

Kini ia menjadi redaktur  portal http://balebengong.net , sebuah portal upaya mewujudkan jurnalisme waga (citizenjournalism) bagi warga di Bali. Tulisannya dimuat beberapa media seperti kolom “Petualang” Kompas (www.Kompas.com), Pikiran Rakyat Republika dan Net Tv “ Berwisata Sekaligus Belajar.”

CBqyX_xUoAEST-hCBqy5z1UgAAgR0bCBqyXm4VEAIWqxs

(Foto : Darlena dan diambil dari @avgustin88 )

 

Aktif menulis berbagai fenomena di negri ini, tidak ia lupakan. Blog menjadi teman menuangkan ‘curhatan-curhatan’ atas apa yang ia lihat, ia dengar, ia raba dan ia rasakan.  Kunjungi http://agustinuswibowo.com ataupun kicauan di twitter @avgustin88.

 

 

 

 

Neng Darlena Nurhasanah