Metropolitan, 2013 Juli 29

 

 

Sebersit cahaya parasmu yang mengetuk hati di hari itu.

Berakar dan tumbuh beberapa detik dengan sekali helaan nafas,

Tak teraba adanya ,hanya semu, satu sama lain berpikir.

Dari kejauhan hanya bisa ku perhatikan seluruh gerak gerikmu supaya kau tak ketergantungan denganku..bengitupun dengan aku.

Hanya sudut hal itu saja yang bisa ku lakukan demi menjaga keakraban yang baik hanya sebagai persaudaraan dan pertemanan tak lebih.

Semoga dengan keputusan seperti ini hubungan ini lebih abadi dan akan terus merangkai simpul – simpul elok hingga menjadi sebuah kisah antik dimasa yang akan datang.

 

Melepasmu perlahan dengan segala pertimbangan gejolak dalam hati, tak usah kau khawatirkan perasaanku. Akan ku kendalikan dan ku tata ulang apa yang rancu didalamnya. Fokuslah dengan hal yang sedang kau arungi sekarang..berlayar dulu baru berlabuh pada masanya. Perlahan menapaki sekat – sekat rel yang belum terlihat ujungnya. Hempasan angin ,terowongan gelap dan lekukan rute perjalanan ini akan berlangsung menjemput ku dan kamu.

 

Desiran hamparan jagad raya pijakanku, melambungkan aku semerbak harumnya khatulistiwa. Tak akan terhapus dari ingatan tentang susunan partikel – partikel dimuka ini. Terimakasih semesta telah melahirkan rasa rancu menggolak dalam sendi perjalanan ini, suguhan terindah yang pernah melekat meski sejenak.

Domo Arigato..

Terima kasih ..

 

 

daRMa

daRlena Magdzalena

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *


*

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>